Komit Wujudkan Program Go Green, LDII Dorong Percepatan Mobil Listrik

Sudah siapkah kita menerima kehadiran mobil listrik? 

Pertanyaan tersebut berulang kali muncul dalam benak saya dalam perjalanan menuju kantor LDII di Patal Senayan, Jakarta. Maklum, saya termasuk orang yang masih so - so menyambut kehadiran mobil listrik. Alasannya sederhana; ga seru! Kalau mobil konvensional, kan, kita bisa ngobrolin apa saja, mulai dari, merk mobil sejuta umat, bahas speed hingga suara mesin. Sedangkan kalau mobil listrik apa yang mau dibahas? Masak kaya ngomongin power bank : "Eh, tau ga, mobil gue baru upgrade ke baterai 70.000 mAh, lho." Halagh... 😂

Jajal nyamannya bis listrik keliling Senayan. 


Alhamdulillah, tanggal 10 Februari 2020 silam saya dan teman-teman komunitas Blomil diundang DPP LDII untuk menghadiri Forum Group Discussion. Temanya menarik Menyongsong Era Mobil Listrik Nasional. Saya bertanya-tanya terus, apa korelasinya sih antara LDII dengan mobil listrik? 

Jadiiiii, rupanya tema ini diambil berangkat dari fokus DPP LDII yang memandang persoalan lingkungan adalah bagian penting dari dakwahnya. Nah, mobil listrik adalah salah satu bentuk penyelamatan lingkungan yang harus dipercepat kehadirannya mengingat bahan bakar fosil yang digunakan mobil konvensional semakin menipis. Hiekz, apa yang terjadi nanti di dunia bila alternatifnya belum ditemukan? 

FYI, rupanya program go green telah dijalankan sejak 12 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2008. Sebanyak 3.553.000 pohon telah ditanam di berbagai wilayah dengan tingkat kematian hanya 7,2%. Sampai kini program go green terus berlangsung dengan mengembangkan fokusnya di bidang energi terbarukan. Salah satunya yang telah dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga surya di Jawa Timur tepatnya di pondok pesantren Wali Barokah, Kediri dan pembangkit listrik mikrohidro di perkebunan teh Jamus, Ngawi. Masya Allah 😍

"Lingkungan memiliki dampak secara pribadi maupun sosial. Bila lingkungan rusak, ibadah pun akan sulit dan imbasnya kesejahteraan masyarakat pun ikut merosot. Untuk itu LDII sangat memperhatikan isu-isu lingkungan sekaligus memberikan solusi," ungkap Prof. Dr. Abdullah Syam, M.Sc - Ketua Umum DPP LDII. 

Selain Blogger, hadir rekan-rekan media, praktisi bisnis di sektor transportasi, pengurus DPP LDII dan adik-adik mahasiswa Teknik Elektro sebagai peserta FGD. Duduk di barisan narasumber tampak hadir : 

1. Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin RI - Harjanto. 

2. Ketua DPP LDII sekaligus Direktur Lembaga Bantuan Teknologi (LBT) - Ir. H. Prasetyo Sunaryo, MT. 

3. Ketua Umum GAIKINDO - Yohannes Nangol. 

4. Direktur Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian PPN/BAPPENAS - Teguh Sambodo, SP.MS.Ph.D. 

5. Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan (PKSK) Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan - Ayu Sukroni, SE.MA. 

6. Lektor Kepala Politeknik Elektronik Negeri Surabaya - DR.Ir.H. Dedid Cahya Happyanto, MT.

lDII gelar FGD Menyongsong Mobil Listrik Nasional 


Sebagai orang yang tinggal di kota besar yakni Jakarta, masalah kemacetan rasanya sudah jadi makanan sehari-hari. Asap knalpot kendaraan yang tumplek di jalanan sering mengeluarkan asap hitam. Bikin mata pedas, dada sesak dan tenggorokan sakit. Ngeri membayangkan ancaman polusi udara yang ditimbulkannya bagi kesehatan. 

Yup, sumber tenaga mobil konvensional adalah bensin yang disimpan di tangki bahan bakar, makanya proses pembakaran di mesin menghasilkan emisi gas buang yang dikeluarkan melalui lubang knalpot. Kalau mobil listrik sumber tenaganya dari listrik yang disimpan di baterai makanya mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang sehingga tidak memiliki knalpot. 

Begitu besarnya dampak emisi gas buang bagi kesehatan, di uni Eropa sudah memberlakukan denda pada produsen mobil jika rata-rata emisi CO2 kendaraan yang diproduksinya melebihi 95 g per kilometer. Tak heran penjualan mobil listrik semakin meningkat. Dari 319 unit pada tahun 2019 diperkirakan menjadi 540 unit di tahun 2020. 

Di Indonesia sendiri mobil listrik memang belum populer. Padahal kita tau mobil listrik ramah lingkungan dan maintainancenya sangat mudah. Tinggal colok di stasiun charging saja seperti mengecas hape, jadi tak perlu antri di pom bensin. Namun yang jadi masalah, ketersediaan stasiun charging masih sedikit (saya malah belum tau ada di mana saja) dan belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini tentu menjadi kekuatiran tersendiri kalau mogok di tengah jalan. Kalau pas ritual muduk tahunan bisa saja terjadi chaos kalau proses chargingnya lama. Kita ingat kan kejadian tol Brexit tahun 2016 silam yang merengut nyawa karena macet tiada berakhir. 

Disamping itu, berapa lama waktu yang diperlukan saat ngecas mobil listrik? Orang Indonesia apalagi di kota besar yang sibuk tentunya bakal senewen kalau harus standby sekitar satu jam untuk mengisi daya mobil listriknya. Belum lagi soal tarif listrik yang masih harus dipikirkan. Kita tahu sampai sekarang listrik dikuasai PLN. Logikanya, semakin banyak konsumsi listrik semakin besar pula kebutuhan listriknya. Kira-kira apakah PLN ga down? huhuhuhu




Soal harga jual mobil listrik juga bikin nyengir. Bila mobil konvensional bisa dibeli dengan range harga dua ratus jutaan maka mobil listrik harganya bisa tiga kali lipatnya. Sekitar 600 jutaan gaesss. Meskipn perawatan mobilnya murah (ga perlu ganti oli, steam dll) tapi batere mobil listrik akan dikemananakan kalau sudah habis masa pakainya? 

Yaah, kendaraan listrik memang masih barang baru dan kita belum familiar. Mirip seperti motor matic masuk ke Indonesia seperti sekarang ini. Just need a time. Mungkin 5 tahun lagi atau lebih cepat lagi. Toh sekarang ini wacana penggunaan mobil elektrik menggantikan mobil berbahan bakar fossil telah telah dilakukan dengan ditandatanganinya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden mengenai kendaraan listrik oleh presiden Jokowi. 

Memang masih banyak hal-hal yang harus dibenahi agar mobil listrik bisa dinikmati masyarakat Indonesia salah satunya SDM yang mumpuni. Mungkin saja nanti ada perkembangan teknologi yang dapat membuat mobil listrik dengan harga jual bersahabat. Kita tunggu saja. 

Bersama Ketua DPP LDII sekaligus Direktur Lembaga Bantuan Teknologi (LBT) - Ir. H. Prasetyo Sunaryo, MT. 




1 komentar